“Ini kak, ada buku bagus buat dibaca sebelum nikah” Mama
memberikan lima buku sekaligus.
“Segini banyaknya, Ma?”
“Lho iya dong. Nikah itu kan juga butuh ilmu”
“Berarti nggak cuma harus pintar bersih – bersih, masak,
cuci baju gitu?” aku mengernyitkan dahi
“Kalau cuma itu aja ya kurang, Kak”
“Hmm”
Semenjak meminta izin ke mama untuk menikah muda, aku
semakin rajin untuk melakukan pekerjaan rumah, tanda disuruh. Tidak seperti
yang terjadi sebelum – sebelumnya.
Tapi hari ini, mama memberiku buku – buku tentang nikah dari
penulis yang sama dengan judul yang berbeda. Kira – kira satu buku berisi 200
halaman. Meskupin ku akui, aku cinta membaca, tapi kali ini aku tidak yakin
dapat menyelesaikannya dengan cepat.
Beberapa hari kemudian
“Gimana,Kak, sudah selesai baca bukunya?”
“Baru satu buku, sih, Ma”
“Terus?”
“Ternyata nikah itu ribet ya, Ma”
“Lho, memang dong Kak. Nikah tidak semudah itu”
“Aku kira nikah itu ya enaknya aja. Bisa pacaran tapi halal,
gitu. Tapi, kenyataannya...”
“Nah, gimana, jadi mau nikah nggak, nih?” Mama menggodaku
“Nanti ku pikir – pikir lagi deh, Ma”
