Sebagai
anak pertama dari tiga bersaudara, itu berat. Berat tanggung jawab dan berat
pekerjaan rumah. Begitulah. Apalagi untuk anak perempuan, banyak sekali
tuntutan dari orang tua. Harus pinter masak, pinter bersih – bersih rumah,
rajin mandi, rajin bersih – bersih kamar dan masih banyak lagi. Untuk masa depan ketika sudah berkeluarga,
ucap ibu mengingatkan. Kadang juga merasa lelah dan malas pastinya. Namanya
juga masih belum terjun di dunia kerumahtanggaan langsung ya, padahal nantinya
ketika sudah berkeluarga banyak banget – banget tanggungannya. Tanggungan diri,
suami, anak – anak, keluarga, belum lagi jika masih kerja diluar.
Tapi,
jujur saja. Jika sudah terbiasa mengerjakannya akan lebih ringan. Belajar dan
belajar agar bisa mengatur rumah (tangga) dengan baik ketika masih lajang, itu
juga penting. Walaupun juga mengorbankan tanggan yang nggak bisa halus (ngelus
tangan sendiri), kuku yang nggak bisa manicure dan pedicure karena seringnya
cuci piring hingga waktu jalan – jalan hangout yang berkurang. Segalanya memang
harus dipersiapkan
Imbalannya
apa?
Nggak
ada. Mungkin hanya rasa capek dan lelah, atau bahkan omelan – omelan dari orang
tua yang dirasa kurang bersih, kurang ini, kurang itu (paling sering dialami
diri sendiri, hiks).
Tapi,
yakin, yakin dan yakin saja. Suatu saat hal itu akan berguna. Ketika berumah
tangga misalnya. Ketika dalam rumah tangga keadaan sedang sulit dan tidak ada
khadimat, bagi kita yang sudah terbiasa di masa lajang membantu orang tua mengerjakan
pekerjaan rumah tangga maka akan biasa saja. Tidak manja dan tidak bergantung
pada khadimat. Ya suatu saat nanti.
