Minggu, 15 September 2019

A Sweet Donuts


Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?

Cuci pakaian? Bersih – bersih kamar kosan? Mencoba masak menu baru? Melaksanakan hobi? Atau tidur seharian setelah selama lima hari beraktivitas tiada henti?

Terserah saja, asalkan hari ini kamu bahagia.

Hari ini setelah beraktivitas seharian, leyeh – leyeh, lanjut buka sosial media.  Tanpa sadar stalking akun sana sini.

“Wih, keren ya, bisa sekolah di luar negeri.”

“Enak ya, hidupnya bisa travelling sana sini.”

“Barangnya bagus – bagus banget, branded. Kapan ya bisa punya”

“Ini juga, suka nongkrong – nongkrong di tempat yang bagus”

Datang  pikiran – pikiran rasa iri yang menggelayut.

Kemudian akan larut

.....

....

...

..

.
Tidak, tidak boleh!

Banyak yang sudah mengatakannya, sebagai manusia kita tidak boleh selalu melihat ke atas. Karena jika kita selalu melihat ke atas, maka akan semakin berkurang rasa syukur kita. Barangkali benar. Atau memang sungguh sangat benar?

Aku merasa  beruntung karena datangnya kesadaran untuk kembali hidup di dunia nyata. Dunia kita yang sesungguhnya.

Batin yang berkecamuk didalam dada. Memori yang berputar didalam kepala.  

“Tidakkah kamu sering lihat, orang yang menggais – ngais tempat sampah untuk  mencari makanana sisa?”

“Tidakkah kamu semalam melihat, beberapa orang yang tidur beratap langit dan beralas tanah 
hanya berselimut kain seadanya?”

“Tidakkah kamu tau, bahwa ada banyak orang – orang yang kurang beruntung dibanding kamu”

Sungguh, tanpa sadar kadang diri ini futur, lupa untuk bersyukur

Jika futur, kadang kita hanya melihat sisi indah dari hidup seseorang, dan lupa bahwa masih lebih banyak yang merasakan pahitnya. Jika kita futur,  kita hanya melihat sisi enak - enaknya hidup, padahal hidup juga cobaan dan permainan semata.

Begitulah.

Bersyukur kita akan merasakan manisnya hidup. Karena kita akan merasa cukup. Seperti donat manis yang ku makan hari ini.