Rabu, 09 Oktober 2019

Semoga Kamu Tetap Menjadi Baik


Film Joker sedang marak akhir – akhir ini. Banyak yang penasaran untuk nonton film itu. Tidak termasuk aku, karena lihat thriler nya aja sudah takut. Iya, aku anaknya agak penakut. Makanya lebih suka nonton kartun shincan. HEHE. Fakta! Setelah lebih banyak melihat dan mendengar di sosial media, lebih baik film ini tidak ditonton. Terutama untuk orang yang memiliki mental illness (penyakit mental).

Bahaya. Katanya.

Karena didalam film ini diceritakan tentang “Orang baik yang berubah menjadi jahat karena sering disakiti” gitu katanya.

Kira – kira, kalian setuju dengan hal itu?

Kita memang sering mendapatkan perlakuan tidak enak dari seseorang. Entah karena perlakuan yang secara fisik, ucapan dan sebagainya. Kadang pula kita merasa sepi karena seseorang yang disayang pergi meninggalkan kita. Atau bisa jadi kita merasa tidak diperhatikan dan diabaikan.

Tapi apakah benar itu adalah alasan kita untuk membalas orang dengan kejahatan?

Tidak teman – teman.

Pernahkah kita membaca kisah sirah Nabi Muhammad?

Dimasa hidupnya, beliau pernah diperlakukan tidak baik oleh orang – orang quraisy dengan dilempari kotoran hewan, beliau pernah di tolak oleh penduduk thaif ketika ingin melakukan hijrah, tapi apa yang dilakukan Nabi Muhammad, nabi kita semua? Bersabar dan tetap berbuat baik! Beliau sering dihina oleh salah seorang kafir buta, yang ternyata setiap hari beliau suapi. Beliau tetap sabar dan tetap berbuat baik.

Nabi Muhammad pernah merasa ditinggal oleh orang – orang yang dikasihinya. Istri tercinta dan paman tersayangnya meninggal dunia. Dimana saat itu disebut dengan tahun kesedihan. Apa setelah itu beliau berputus asa untuk berdakwah? Jawabannya adalah tidak.

Maka, pantaslah jika kisah hidup Nabi Muhammad adalah contoh  untuk kita semua. Uswatun Hasanah yang  diperlukan untuk kehidupan kita.

Maka sebab itu tidak ada alasan untuk menjadi orang yang tidak baik (jahat). Karena menjadi baik itu mudah. Cukuplah kebaikan dan kesabaran kita akan dibalas oleh Allah, Tuhan Semesta Alam. Berat memang. Kita kadang merasa lelah. Tidak dapat apa - apa, justru diperlakukan yang tidak - tidak. Ketahuilah, nyatanya sifat manusia itu macam - macam. Tidak semuanya jahat, tidak semua buruk. Suatu saat kamu akan melihat mendapat hasil dari kebaikan - kebaikan yang selama ini kamu lakukan. Pasti. 

Semoga kita bisa selalu berbuat baik dan memperlakukan orang dengan baik. Semoga. 





Minggu, 15 September 2019

A Sweet Donuts


Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?

Cuci pakaian? Bersih – bersih kamar kosan? Mencoba masak menu baru? Melaksanakan hobi? Atau tidur seharian setelah selama lima hari beraktivitas tiada henti?

Terserah saja, asalkan hari ini kamu bahagia.

Hari ini setelah beraktivitas seharian, leyeh – leyeh, lanjut buka sosial media.  Tanpa sadar stalking akun sana sini.

“Wih, keren ya, bisa sekolah di luar negeri.”

“Enak ya, hidupnya bisa travelling sana sini.”

“Barangnya bagus – bagus banget, branded. Kapan ya bisa punya”

“Ini juga, suka nongkrong – nongkrong di tempat yang bagus”

Datang  pikiran – pikiran rasa iri yang menggelayut.

Kemudian akan larut

.....

....

...

..

.
Tidak, tidak boleh!

Banyak yang sudah mengatakannya, sebagai manusia kita tidak boleh selalu melihat ke atas. Karena jika kita selalu melihat ke atas, maka akan semakin berkurang rasa syukur kita. Barangkali benar. Atau memang sungguh sangat benar?

Aku merasa  beruntung karena datangnya kesadaran untuk kembali hidup di dunia nyata. Dunia kita yang sesungguhnya.

Batin yang berkecamuk didalam dada. Memori yang berputar didalam kepala.  

“Tidakkah kamu sering lihat, orang yang menggais – ngais tempat sampah untuk  mencari makanana sisa?”

“Tidakkah kamu semalam melihat, beberapa orang yang tidur beratap langit dan beralas tanah 
hanya berselimut kain seadanya?”

“Tidakkah kamu tau, bahwa ada banyak orang – orang yang kurang beruntung dibanding kamu”

Sungguh, tanpa sadar kadang diri ini futur, lupa untuk bersyukur

Jika futur, kadang kita hanya melihat sisi indah dari hidup seseorang, dan lupa bahwa masih lebih banyak yang merasakan pahitnya. Jika kita futur,  kita hanya melihat sisi enak - enaknya hidup, padahal hidup juga cobaan dan permainan semata.

Begitulah.

Bersyukur kita akan merasakan manisnya hidup. Karena kita akan merasa cukup. Seperti donat manis yang ku makan hari ini. 



Kamis, 25 Juli 2019

Kita (Tidak) Sedang Baik - Baik Saja


“Kamu percaya ik, kalau ikhwan itu tidak hanya memandang dari segi fisiknya aja?”

Tanya seseorang. Beberapa hari yang lalu

“Mungkin”

“untuk orang yang seperti aku yang gemuk, wajah biasa saja, punya penyakit lagi. Kok rasanya susah ya, ik”

“Susah bagaimana ya, mbak?”

“Ya, susah buat nikah”

“Nggak lah mbak, pasti ada ikhwan – ikhwan yang suka sama akhwat gemuk”

“Tapi itu Cuma sekian persen, Ik”

Hening. Aku tidak bisa menanggapi.

“Aku juga pernah ik, dibicarakan sama ammah – ammah”

“Bagaimana memangnya, mbak?”

“Ya gini ik, ‘******** ini lho suruh diet, nanti nggak ada ikhwan yang mau’

Seketika terkejut. Bisa gitu ya?

Well, obrolan kami berdua masih lanjut. Kenyataan bahwa ada rasa minder di dalam dirinya. Faktor usia yang belum menikah dan yang paling banyak adalah faktor fisik yang ada pada dirinya.

Sama, aku juga merasakan hal yang seperti itu. Kadang.

Minder dengan diri sendiri, lebih ke fisik terutama. Seringkali orang – orang yang berada di lingkungan sekitar membicarakan diri ini. dari ujung rambut, pipi sampai badan. Marah? Tentu saja. Rasanya mereka seperti tidak pantas membicarakan apa - apa yang ada pada diri ini.

Mengapa?

Karena mereka tidak tahu yang sesungguhnya.  Mereka yang suka membicarakan ataupun mengolok – olok tidak pernah tahu bagaimana susahnya diet, tidak pernah tahu rasanya menahan diri untuk tidak menikmati makanan tertentu ataupun sebagainya.

Berhentilah untuk mengatakan hal – hal yang tidak perlu di ucapkan. Apalagi jika pertama kali bertemu “Wah kamu kok tambah kurusan?” “Wah, kamu kok tambah lebar ya kayaknya” “Ih, itu kenapa sih kok muka gosong banget”

Mari kita belajar untuk menahan diri. Aku pun juga.

Karena pasti kita sudah tahu banyak kasus - kasus body shaming ataupun body bully yang berujung pada kematian, bunuh diri. Mungkin saja, bukan fisiknya yang bunuh diri tapi jiwa rasa percaya dirinya yang pergi.

Apakah kita begitu tega membunuh hal itu pada orang - orang disekitar kita?

Tentu saja, tidak. 


Untuk orang – orang yang pernah merasakan hal yang sama.

Jangan pernah merasa kamu salah dilahirkan dengan memiliki fisik yang berbeda. Yakin saja, bahwa kamu cantik. Karena dengan kecantikan yang kamu miliki, orang – orang seharusnya akan melihat bahwa kita tidaklah sama. Semua memiliki sisi yang menarik. Tentu tidak indah, jika Tuhan menciptakan kita memiliki kecantikan yang sama rata. 

Banggalah pada diri sendiri. Banggalah dengan apa yang kamu miliki sekarang ini.
Suatu saat, akan ada laki – laki yang melihatmu. Bahwa kamu adalah orang yang tercantik di dunia ini. Begitu pula kamu wahai laki – laki, suatu saat akan ada yang menerimamu apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang melekat.



Senin, 17 Juni 2019

Nikah Muda, Aku Kapan? #2


“Ini kak, ada buku bagus buat dibaca sebelum nikah” Mama memberikan lima buku sekaligus.

“Segini banyaknya, Ma?”

“Lho iya dong. Nikah itu kan juga butuh ilmu”

“Berarti nggak cuma harus pintar bersih – bersih, masak, cuci baju gitu?” aku mengernyitkan dahi

“Kalau cuma itu aja ya kurang, Kak”

“Hmm”

Semenjak meminta izin ke mama untuk menikah muda, aku semakin rajin untuk melakukan pekerjaan rumah, tanda disuruh. Tidak seperti yang terjadi sebelum – sebelumnya.

Tapi hari ini, mama memberiku buku – buku tentang nikah dari penulis yang sama dengan judul yang berbeda. Kira – kira satu buku berisi 200 halaman. Meskupin ku akui, aku cinta membaca, tapi kali ini aku tidak yakin dapat menyelesaikannya dengan cepat.

Beberapa hari kemudian

“Gimana,Kak, sudah selesai baca bukunya?”

“Baru satu buku, sih, Ma”

“Terus?”

“Ternyata nikah itu ribet ya, Ma”

“Lho, memang dong Kak. Nikah tidak semudah itu”

“Aku kira nikah itu ya enaknya aja. Bisa pacaran tapi halal, gitu. Tapi, kenyataannya...”

“Nah, gimana, jadi mau nikah nggak, nih?” Mama menggodaku

“Nanti ku pikir – pikir lagi deh, Ma”

Minggu, 21 April 2019

Tentang Pemilu 2019

2019 adalah tahun yang ditunggu - tunggu. Tahun dimana #2019tetapJokowi atau #2019gantipresiden. Yaps. Di tahun 2019 ini akan ada pemilu untuk presiden, DPR RI, DPR provinsi, DPR kota/kabupaten dan DPD. Ada 5 kertas suara yang berbeda. Pusing? So pasti. Karena disini kita akan memilih siapa pemimpin - pemimpin kita selanjutnya.

Flashback di tahun sebelum 2019, lebih tepatnya sebelum pemilu, banyak sekali yang saling serang. Cebong vs Kampret, katanya. Setelah itu, banyaknya kejadian - kejadian yang bisa dibilang menyedihkan. Dari yang namanya kriminalisasi ulama, para petani yang menjerit dengan adanya import ketika masa panen, pengambilan lahan secara paksa, korupsi dengan jumlah dana negara yang tak terhitung jumlahnya, hoax, hutang negara yang terus meningkat, serbuan tenaga kerja asing dan mungkin masih banyak lagi. Sesuatu yang bisa dikata sangat miris dibalik megahnya pembangunan negeri ini

Kita semua pasti menginginkan pemilu segera datang dan berakhir. Karena bisa dikatakan pemilu ini, kita kehilangan beberapa teman, sahabat, bahkan saudara.  Sangat melelahkan.

Akhirnya, 17 April 2019 tiba. Semua rakyat yang sudah terdata datang ke TPS untuk mencoblos pilihannya. Semua yang bertugas sudah berada di tempatnya masing - masing.  Yang bisa dikatakan paling heroik adalah para saksi. Dari pagi hingga ke pagi kembali, mereka bahkan tidak tidur untuk menjaga suara rakyat ini. Luar biasa.

Tapi, kita tidak bisa berhenti disitu. Suara rakyat harus tetap dikawal dengan bukti adanya C1 yang sangat berharga. Tanpa adanya C1, maka bisa dikatakan kerja saksi akan menjadi suatu hal yang sia - sia. Banyak beredar foto dari berbagai akun sosial media macam - macam bentuk orang yang menjaga C1 ini. Terutama aksi pengamanan dari PKS.

Memperjuangkan suara rakyat itu tidak mudah. Banyak sekali fakta bahwa terjadinya kecurangan. Kertas suara yang sudah tercoblos, habisnya kertas suara bagi para pemegang A5, DPT yang tidak mendapat A6 dan sebagainya. Belum lagi yang ternyata data yang diunggah KPU tidak sesuai dengan C1. Kemanakah asas pemilu jujur dan adil pergi?

Ini bukan lagi tentang dicurangi dan mencurangi. Tapi, ini adalah tentang Indonesia kita tercinta. Jika orang - orang yang memperjuangkan kejujuran dan keadilan dianggap gila, lalu apakah kita menyerah dengan nasib bangsa? Proses kita untuk pemilu 2019 ini belum tuntas. Kita belum boleh legowo atau bisa dikatakan pasrah, rela dicurangi atau masa bodoh dengan nasib bangsa.

Sekarang, sebagai pemuda tinggal memilih. Tidak tahu kemudian mencari tahu atau tidak tahu menahu. Karena pada akhirnya, kita akan tahu siapa yang benar - benar cinta pada negara ini.

Saya Indonesia, Saya Pancasila.


Senin, 15 April 2019

Nikah Muda, Aku Kapan? #1


Di Suatu hari, tahun 2015

“Mamaaa, aku pingin nikah muda”

“Ehhh!!!”

“Iya, ma, enak kan nikah muda. Ada yang bisa diajak pacaran tapi halal. Aku kan juga pingin tuh yang namanya pegangan tangan sama cowok, mesra – mesraan sama cowok kayak temen – temen aku yang lain” Aku mengebu – ngebu menjelaskan perkataanku yang tadi.

“Aduh, kak, kamu ini ada – ada saja!”

“Ihh mama ini, aku nggak bercanda, lho, ma”

“Sudah, sudah, sana belajar!”

Remaja yang berusia 17 tahun pasti nggak akan jauh – jauh dengan yang namanya punya gebetan, kakak adik zone, atau bahkan pacaran.

Tapi, aku berbeda dengan yang lain. Keinginanku sudah bulat untuk ‘menikah muda’ saat itu. Apalagi di sosial media, booming sekali tentang nikah muda.

Nikah muda itu sama seperti pacaran, tetapi dalam konteks yang halal. Katanya. Itulah salah satu alasan dimana aku ingin segera menikah muda. Selama ini, aku hidup dilingkungan keluarga yang bisa dibilang cukup agamis. Apalagi, aku selalu berpegang teguh untuk tidak bersentuhan tangan dengan para laki – laki.

“Kak, kamu harus tahu, menikah itu nggak mudah” ucap mama menasehati suatu ketika.

“Iya, iya, tahu. Tapi kan menikah itu berpahala. Itu, tuh, katanya bersentuhan tangan aja dapat pahala” aku ngeles.

“Aduh kak, kamu ini masih SMA”

“Ya, gapapa, nikahnya setelah lulus SMA”

“Kak, kak. Kamu ini, apa jodohnya sudah datang?” mama bertanya dengan pertanyaan yang menohok.

“Belum, sih, Ma”

“Jodohnya aja belum datang, gitu kayak mau minta nikah besok aja, Kak, Kak” mama tertawa.
“....” aku terdiam. Bingung menanggapi.

“Sudah gih, sana. Kamu perbaiki diri kamu dulu. Setelah itu baru kalau jodoh sudah datang, boleh nikah”

“Beneran, nih, Ma?” jawabku berbinar – binar.

“Iya, kalau jodoh sudah datang.”

“Yaaah, tapi kalo nggak datang – datang gimana dong ma?”

“Makanya, doa sama Allah, minta jodohnya biar segera datang”

“Gitu ya, Ma. Oke deh” jawabku senang. Sementara mamaku hanya geleng – geleng kepala.

“Dasar anak jaman sekarang”


Sabtu, 06 April 2019

Ketika Aku Galau Tentang Cinta


Cie, masalah cinta nih ye. Tumben.

Beberapa hari yang lalu, atau bisa jadi beberapa pekan yang lalu, aku memikirkan sesuatu. Yups, sesuatu itu membuatku bisa dikatakan “galau” secara tiba – tiba. Fyi, aku sering banget nih, ketika sedang dikamar, sendirian, sambil dengerin lagu – lagu terus datang galau. Ada yang pernah sama merasakan hal ini?

Aku termasuk tipe perempuan yang nggak bisa dekat dan nyaman dengan banyak laki – laki. Artinya, bisa jadi aku hanya ada satu dua orang  laki – laki yang bisa membuatku nyaman sebagai teman dekat atau bahkan sahabat. Begitulah. Itupun juga pilih – pilih. Hahaha. Apalah aku ini. Bisa dikatakan juga, aku bukan seperti teman – teman perempuan lainnya yang gampang nongkrong, haha hihi, atau bahkan say hello dengan laki – laki, walaupun itu teman seangkatan sendiri. Entahlah.  Bukan, bukan berarti aku anti dengan laki – laki, haha. Tapi, ya inilah aku, yang dimana aku lebih nyaman begitu.

Aku pernah dekat dengan seseorang, dijaman masih duduk di seragam putih biru alias SMP. Dia kakak kelas tiga tahun diatasku. Artinya, ketika aku baru masuk SMP, dia juga baru masuk SMA. Bisa dibilang kedekatanku dengan dia cukup lama, dari jaman SMP hingga SMA. Sampai, aku pernah berharap selamanya. Tapi, karena memang takdir yang sudah dituliskan dariNya, ya akhirnya dia menikah terlebih dahulu.

Merasa sakit? Iya, waktu itu. Tapi aku tahu, hati sifatnya bolak – balik, dan akan terus begitu.

Mari lupakan.

Lalu, sekarang ini, aku kembali berteman dekat dengan seseorang yang juga dimana aku juga berharap akan bersama dia selamanya. Bahkan bisa dikatakan aku memaksakan Tuhan agar kami disatukan.

Hingga, aku sadar, setelah aku berpikir lebih jauh.

“....Nggak bisa, aku nggak bisa memaksa Tuhan. Aku nggak bisa memaksakan takdir yang sudah diputuskanNya untuk masa depanku nanti. Aku harus mulai belajar ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Bahwa cinta bukan sesuatu yang dipaksa, tetapi mengalir begitu saja. Ya, seperti itu....”

Ketika aku galau tentang cinta (yang salah), maka aku harus segera mengakhirinya.






Selasa, 12 Februari 2019

Ada Apa Dengan "Nasi Bungkus?"


Pernah nggak sih terpikirkan dari nasi bungkus itu ada usaha – usaha yang dilakukan banyak orang? Pernah tidak? Hmm. Baik kita mulai dari nasi, iya sebutir beras itu kalau diibaratkan perjuangan menjadi nasi itu panjang. Dimulai dari penyebaran benih, menunggu berbulan – bulan untuk panen, memberikan pupuk, menghilangkan hama, dsb. Itu baru nasi. Untuk lauk sederhana telur dan tahu misalnya. Mereka (lauk) itu juga ada proses. Oseng – oseng sayuran juga. Sebungkus nasi yang dibeli dengan harga murah (antara lima sampai sepuluh ribu) itu begitu kompleks. Sempurna.

Ngapain sih, ik, mikir yang nggak penting beginian?!? Kurang kerjaan banget!

Ah, iya.

Semua ini dimulai dengan percakapan gue dan mama yang saat itu sedang makan.

“Kalau makan gini pokoknya prinsipku harus habis dan aku paling kesel, deh, ma kalo misalnya ada yang makan nasi bungkusan gini ngga habis”

“Iya, kak. Mama juga sama.”

“Nah iya, ma. Rasanya tuh pingin tak marahin gitu ke orang – orang kalau makan suka nyisain – nyisain.. bla .. bla.. bla...”

Iya, memang. Gue suka kesel sama orang yang suka nyisain makanannya. Kesel banget gitu. Padahal kan mungkin sebenarnya ngga perlu ya. Kan mereka juga yang bayar makanan tersebut.

Tapi, coba pernah lihat nggak, orang – orang yang menggais – nggais makanan dari tempat sampah? Atau menggais – gais makanan dari tumpukan nasi kotakan dan mencari sisa lauk pauk yang tidak habis? Pernah tidak?

Miris. Kasihan.

Kita diberi anugrah sebuah pekerjaan yang bagus sehingga menghasilkan uang agar bisa makan dan memenuhi kebutuhan yang lain. tetapi, tanpa kita sadari dengan membuang – buang makanan itu kita juga membuang sia – sia hasil dari keringat yang selama ini diperoleh. Pun, Allah sudah melarang kita untuk bersikap mubadzir.

Mulai dari sekarang, dibiasakan deh yang namanya menghabiskan makanan. Kalau dirasa kebanyakan atau masih kenyang, tawarkan ke teman - teman atau orang sekitar yang mau menghabiskan makanan itu ya. 


nasi jagung favorit

Sabtu, 02 Februari 2019

Korban Obsesi Orang Tua


Ada satu scene drama korea yang membuat gue berpikir tentang satu hal. “Yang orang tua inginkan adalah memenuhi keinginan mereka lewat anak mereka ”  Menurut pribadi sih, itu benar. Tanpa sadar, orang tua menuntun kita dalam menentukan pilihan (atau bahkan sampai menuntut). Dari memilih sekolah, kerja bahkan jodoh. Tapi, memang tak sedikit juga orang tua membebaskan pilihan – pilihan tersebut kepada si anak.



Ini yang gue lihat sebagai kakak kepada seorang adik yang sebentar lagi masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Sejak beberapa bulan yang lalu, adik gue, si Ais, ribut dengan pilihan – pilhan sekolah selanjutnya. Orang tua gue pun memberikan pilihan –pilihan ke dia. Terutama beberapa sekolah di pondok pesantren atau boarding (asrama). Tidak ada paksaan, hanya saja gue sebagai kakak (yang baik) memberikan sudut pandang ke dia.

“Sekolah di negeri itu begini... begini dek... nanti kamu kalo nggak begini jadi begini”

“Kalau sekolah di pondok atau boarding itu enaknya begini ... nggak enaknya  ya begini ...”

Dari percakapan yang panjang itu, akhirnya gue tahu dia sebenarnya lebih condong ke sekolah yang seperti apa.

“Kak, aku aslinya pernah bilang ke mama pengen sekolah yang sama kayak kamu waktu SMA”

“Terus???”

“Aku dimarahi mama”

“Lah, kenapa?”

“Ya gitu kak, alasannya ....”

Oke, baik.

Jadilah dia, si Ais, pergi tes masuk ke salah satu sekolah dimana orang tua kami menyarakan. Dicoba saja. Barangkali bisa lolos.

Setelah itu apa yang kami berdua lakukan? Ya pastinya berdoa. Hanya saja, berdoa agar tidak lolos. 
Mungkin aneh kedengarannya. Tapi bagiku ini menghilangkan sebuah kesia – siaan jika akhirnya dia diterima di sekolah tersebut karena adik gue nggak ada keinginan masuk disana.

Memang gue belum jadi orang tua dan gue belum pernah tau perasaan sebagai orang tua yang memiliki keinginan yang besar kepada anak – anaknya. Hanya saja, apakah iya kamu akan selalu mengatakan seperti ini?

“Kamu mau sekolah dimana?”

“Apa kata orang tua aja lah”

“Eh, eh, kamu katanya mau ambil jurusan hukum?”

“Ortuku ngebolehin, mereka nyuruh aku ngambil jurusan keguruan”

This is your life. C’mon, you have a choice. Jangan sampai menyesal nantinya. Bahkan sampai nangis – nangis akibat melakukan hal yang nggak kamu suka.

Kalau sudah terlanjur gimana?

Turuti apa kata mereka jika memang itu dirasa baik buatmu.  Bertahanlah sampai akhir.
Misal kamu salah jurusan di perkuliahan akibat paksaan dari orang tua. Yasudah, selesaikan dengan baik, secepat mungkin, bahkan kalau bisa kamu bisa berprestasi. Selanjutnya? Berbicarahlah secara baik – baik ke orang tua. Diskusi dengan mereka dan selalu minta doa restu disetiap langkah yang kamu ambil. Gue yakin, pasti dalam setiap diri seorang anak, ada keinginan orang tua yang selalu ingin kita kabulkan. Dan gue yakin, tiap orang bisa mengabulkan dengan caranya masing – masing.

Tapi inget, sekalipun kamu sudah mempunyai pilihan dan orang tua kamu fine – fine aja dengan pilihan itu maka bertanggung jawablah. Baik dari segi apa yang kamu dan orang – orang sekitarmu dapatkan hingga ketika nantinya menemui kesulitan.

Karena ini kehidupan, nggak ada jalan yang lurus, mulus, seperti jalan tol.




Sabtu, 12 Januari 2019

Pergi Saja


Sudahi saja

Jika memang nyatanya kau tak ada rasa

Atau bahkan kau menganggapku tak ada

Aku sudah merasa lelah

Mari kita akhiri

Jika ini hanya membuat sakit hati

Cukup sudah aku menangisi


Aku bukan termasuk orang yang bertahan
Dengan segala hal yang menyakitkan
Lebih baik aku meninggalkan
Dan menyepi dalam kesendirian