Minggu, 21 April 2019

Tentang Pemilu 2019

2019 adalah tahun yang ditunggu - tunggu. Tahun dimana #2019tetapJokowi atau #2019gantipresiden. Yaps. Di tahun 2019 ini akan ada pemilu untuk presiden, DPR RI, DPR provinsi, DPR kota/kabupaten dan DPD. Ada 5 kertas suara yang berbeda. Pusing? So pasti. Karena disini kita akan memilih siapa pemimpin - pemimpin kita selanjutnya.

Flashback di tahun sebelum 2019, lebih tepatnya sebelum pemilu, banyak sekali yang saling serang. Cebong vs Kampret, katanya. Setelah itu, banyaknya kejadian - kejadian yang bisa dibilang menyedihkan. Dari yang namanya kriminalisasi ulama, para petani yang menjerit dengan adanya import ketika masa panen, pengambilan lahan secara paksa, korupsi dengan jumlah dana negara yang tak terhitung jumlahnya, hoax, hutang negara yang terus meningkat, serbuan tenaga kerja asing dan mungkin masih banyak lagi. Sesuatu yang bisa dikata sangat miris dibalik megahnya pembangunan negeri ini

Kita semua pasti menginginkan pemilu segera datang dan berakhir. Karena bisa dikatakan pemilu ini, kita kehilangan beberapa teman, sahabat, bahkan saudara.  Sangat melelahkan.

Akhirnya, 17 April 2019 tiba. Semua rakyat yang sudah terdata datang ke TPS untuk mencoblos pilihannya. Semua yang bertugas sudah berada di tempatnya masing - masing.  Yang bisa dikatakan paling heroik adalah para saksi. Dari pagi hingga ke pagi kembali, mereka bahkan tidak tidur untuk menjaga suara rakyat ini. Luar biasa.

Tapi, kita tidak bisa berhenti disitu. Suara rakyat harus tetap dikawal dengan bukti adanya C1 yang sangat berharga. Tanpa adanya C1, maka bisa dikatakan kerja saksi akan menjadi suatu hal yang sia - sia. Banyak beredar foto dari berbagai akun sosial media macam - macam bentuk orang yang menjaga C1 ini. Terutama aksi pengamanan dari PKS.

Memperjuangkan suara rakyat itu tidak mudah. Banyak sekali fakta bahwa terjadinya kecurangan. Kertas suara yang sudah tercoblos, habisnya kertas suara bagi para pemegang A5, DPT yang tidak mendapat A6 dan sebagainya. Belum lagi yang ternyata data yang diunggah KPU tidak sesuai dengan C1. Kemanakah asas pemilu jujur dan adil pergi?

Ini bukan lagi tentang dicurangi dan mencurangi. Tapi, ini adalah tentang Indonesia kita tercinta. Jika orang - orang yang memperjuangkan kejujuran dan keadilan dianggap gila, lalu apakah kita menyerah dengan nasib bangsa? Proses kita untuk pemilu 2019 ini belum tuntas. Kita belum boleh legowo atau bisa dikatakan pasrah, rela dicurangi atau masa bodoh dengan nasib bangsa.

Sekarang, sebagai pemuda tinggal memilih. Tidak tahu kemudian mencari tahu atau tidak tahu menahu. Karena pada akhirnya, kita akan tahu siapa yang benar - benar cinta pada negara ini.

Saya Indonesia, Saya Pancasila.


Senin, 15 April 2019

Nikah Muda, Aku Kapan? #1


Di Suatu hari, tahun 2015

“Mamaaa, aku pingin nikah muda”

“Ehhh!!!”

“Iya, ma, enak kan nikah muda. Ada yang bisa diajak pacaran tapi halal. Aku kan juga pingin tuh yang namanya pegangan tangan sama cowok, mesra – mesraan sama cowok kayak temen – temen aku yang lain” Aku mengebu – ngebu menjelaskan perkataanku yang tadi.

“Aduh, kak, kamu ini ada – ada saja!”

“Ihh mama ini, aku nggak bercanda, lho, ma”

“Sudah, sudah, sana belajar!”

Remaja yang berusia 17 tahun pasti nggak akan jauh – jauh dengan yang namanya punya gebetan, kakak adik zone, atau bahkan pacaran.

Tapi, aku berbeda dengan yang lain. Keinginanku sudah bulat untuk ‘menikah muda’ saat itu. Apalagi di sosial media, booming sekali tentang nikah muda.

Nikah muda itu sama seperti pacaran, tetapi dalam konteks yang halal. Katanya. Itulah salah satu alasan dimana aku ingin segera menikah muda. Selama ini, aku hidup dilingkungan keluarga yang bisa dibilang cukup agamis. Apalagi, aku selalu berpegang teguh untuk tidak bersentuhan tangan dengan para laki – laki.

“Kak, kamu harus tahu, menikah itu nggak mudah” ucap mama menasehati suatu ketika.

“Iya, iya, tahu. Tapi kan menikah itu berpahala. Itu, tuh, katanya bersentuhan tangan aja dapat pahala” aku ngeles.

“Aduh kak, kamu ini masih SMA”

“Ya, gapapa, nikahnya setelah lulus SMA”

“Kak, kak. Kamu ini, apa jodohnya sudah datang?” mama bertanya dengan pertanyaan yang menohok.

“Belum, sih, Ma”

“Jodohnya aja belum datang, gitu kayak mau minta nikah besok aja, Kak, Kak” mama tertawa.
“....” aku terdiam. Bingung menanggapi.

“Sudah gih, sana. Kamu perbaiki diri kamu dulu. Setelah itu baru kalau jodoh sudah datang, boleh nikah”

“Beneran, nih, Ma?” jawabku berbinar – binar.

“Iya, kalau jodoh sudah datang.”

“Yaaah, tapi kalo nggak datang – datang gimana dong ma?”

“Makanya, doa sama Allah, minta jodohnya biar segera datang”

“Gitu ya, Ma. Oke deh” jawabku senang. Sementara mamaku hanya geleng – geleng kepala.

“Dasar anak jaman sekarang”


Sabtu, 06 April 2019

Ketika Aku Galau Tentang Cinta


Cie, masalah cinta nih ye. Tumben.

Beberapa hari yang lalu, atau bisa jadi beberapa pekan yang lalu, aku memikirkan sesuatu. Yups, sesuatu itu membuatku bisa dikatakan “galau” secara tiba – tiba. Fyi, aku sering banget nih, ketika sedang dikamar, sendirian, sambil dengerin lagu – lagu terus datang galau. Ada yang pernah sama merasakan hal ini?

Aku termasuk tipe perempuan yang nggak bisa dekat dan nyaman dengan banyak laki – laki. Artinya, bisa jadi aku hanya ada satu dua orang  laki – laki yang bisa membuatku nyaman sebagai teman dekat atau bahkan sahabat. Begitulah. Itupun juga pilih – pilih. Hahaha. Apalah aku ini. Bisa dikatakan juga, aku bukan seperti teman – teman perempuan lainnya yang gampang nongkrong, haha hihi, atau bahkan say hello dengan laki – laki, walaupun itu teman seangkatan sendiri. Entahlah.  Bukan, bukan berarti aku anti dengan laki – laki, haha. Tapi, ya inilah aku, yang dimana aku lebih nyaman begitu.

Aku pernah dekat dengan seseorang, dijaman masih duduk di seragam putih biru alias SMP. Dia kakak kelas tiga tahun diatasku. Artinya, ketika aku baru masuk SMP, dia juga baru masuk SMA. Bisa dibilang kedekatanku dengan dia cukup lama, dari jaman SMP hingga SMA. Sampai, aku pernah berharap selamanya. Tapi, karena memang takdir yang sudah dituliskan dariNya, ya akhirnya dia menikah terlebih dahulu.

Merasa sakit? Iya, waktu itu. Tapi aku tahu, hati sifatnya bolak – balik, dan akan terus begitu.

Mari lupakan.

Lalu, sekarang ini, aku kembali berteman dekat dengan seseorang yang juga dimana aku juga berharap akan bersama dia selamanya. Bahkan bisa dikatakan aku memaksakan Tuhan agar kami disatukan.

Hingga, aku sadar, setelah aku berpikir lebih jauh.

“....Nggak bisa, aku nggak bisa memaksa Tuhan. Aku nggak bisa memaksakan takdir yang sudah diputuskanNya untuk masa depanku nanti. Aku harus mulai belajar ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Bahwa cinta bukan sesuatu yang dipaksa, tetapi mengalir begitu saja. Ya, seperti itu....”

Ketika aku galau tentang cinta (yang salah), maka aku harus segera mengakhirinya.