Pernah nggak sih terpikirkan dari nasi bungkus itu ada usaha
– usaha yang dilakukan banyak orang? Pernah tidak? Hmm. Baik kita mulai dari
nasi, iya sebutir beras itu kalau diibaratkan perjuangan menjadi nasi itu
panjang. Dimulai dari penyebaran benih, menunggu berbulan – bulan untuk panen,
memberikan pupuk, menghilangkan hama, dsb. Itu baru nasi. Untuk lauk sederhana
telur dan tahu misalnya. Mereka (lauk) itu juga ada proses. Oseng – oseng
sayuran juga. Sebungkus nasi yang dibeli dengan harga murah (antara lima sampai
sepuluh ribu) itu begitu kompleks. Sempurna.
Ngapain sih, ik, mikir yang nggak penting beginian?!?
Kurang kerjaan banget!
Ah, iya.
Semua ini dimulai dengan percakapan gue dan mama yang saat itu sedang makan.
“Kalau makan gini pokoknya prinsipku harus habis dan aku
paling kesel, deh, ma kalo misalnya ada yang makan nasi bungkusan gini ngga
habis”
“Iya, kak. Mama juga sama.”
“Nah iya, ma. Rasanya tuh pingin tak marahin gitu ke orang –
orang kalau makan suka nyisain – nyisain.. bla .. bla.. bla...”
Iya, memang. Gue suka kesel sama orang yang suka nyisain
makanannya. Kesel banget gitu. Padahal kan mungkin sebenarnya ngga perlu ya.
Kan mereka juga yang bayar makanan tersebut.
Tapi, coba pernah lihat nggak, orang – orang yang menggais –
nggais makanan dari tempat sampah? Atau menggais – gais makanan dari tumpukan
nasi kotakan dan mencari sisa lauk pauk yang tidak habis? Pernah tidak?
Miris. Kasihan.
Kita diberi anugrah sebuah pekerjaan yang bagus sehingga
menghasilkan uang agar bisa makan dan memenuhi kebutuhan yang lain. tetapi,
tanpa kita sadari dengan membuang – buang makanan itu kita juga membuang sia –
sia hasil dari keringat yang selama ini diperoleh. Pun, Allah sudah melarang
kita untuk bersikap mubadzir.

