Minggu, 16 Desember 2018

Tidak Ada yang Mahal Disini


Sebagai mahasiswa di Jember pasti nggak akan melewatkan jalan – jalan di kota ini dong. Hehe. Sejujurnya, aku ini termasuk anak yang introvert dan suka di rumah. Percaya nggak? Pasti banyak yang nggak percaya. Yihaa :”( Sebenarnya, Jember bukan kota pertama dimana aku ngerantau buat belajar. Jaman masih SMP, aku udah ngerantau ke Jawa Tengah tepatnya di Kota Klaten. But, yah waktu itu masih jaman SMP dan juga mondok jadi ya nggak bisa keliling kemana – mana. Hahaha. Sejujurnya aku sudah jatuh cinta dengan Jember #eaaa. Karena apa? Jarang macet dan yang paling utama sih karena murah (mental anak kos :P)

Udah beberapa kali aku ngebuktiin bahwa Jember itu murah, salah satunya untuk masalah jalan – jalan. Setelah dua hari ujian akhir dan masih nunggu lima hari lagi untuk ujian (lagi) jadwal keseharian ya hanya begitu – begitu aja. Nonton youtube, stalkerin akun – akun cowok ganteng dan tidur. Emang nggak produktif sama sekali. Kenapa nggak pulang ke Pasuruan? Sebelum ujian aku tuh udah pulang. Bosen dengan kegiatan yang begitu – begitu aja, akhirnya aku WA-in temen kampus satu – satu.

*FYI GUYS, INI SALAH SATU CARA GUE BUAT NGEDAPETIN TEMEN JALAN – JALAN WKWKWK*

Dan akhirnya, ada salah satu adek kelas yang mau ku ajak jalan – jalan juga. Asique. Tujuan awal ke Dira Park dan Wana Wisata Simbat. Tapi sepanjang perjalanan, aku tergoda ngeliat papan petunjuk ke arah pantai :”) dan yaah akhirnya  o te we juga ke sana alias ganti rencana. Ke Pantai Papuma udah sering banget, yaudah ke Pantai Watu Ulo. Pantai ini lebih sepi dan kotor daripada di Papuma. Sayang banget.

Take a photo with strangers


Have you ever to be here?

Jam 10 lanjut perjalanan ke Wana Wisata Simbat. Kita berdua nggak pernah ada yang tahu pasti dimana tempatnya dan hanya mengandalkan google maps. Perjalanan kesana lebih menantang karena emang nggak ada aspal mulus. Eh tapi, tapi setelah hampir sampai disana. Aku dan si Rana memutuskan untuk balik. Why? Ada deh. HAHAHA. Kalau pengen tahu jawabannya langsung aja DM lewat instagram. (ketahuan jomblo nggak ada yang ngechat).

Lanjut ke Dira Park. Biaya masuk 15.000 dan voila, ruame banget! Hahaha. Tapi nggak ngecewain sih, karena emang nyenengin #apaansih.

i am in the tropics

naik ini sampai bosyen 

Hola!


Aku bersyukur banget dari kehidupan yang penuh biaya yang murah ini. Hahaha.
List Biaya :
Bensin                  : 20.000
Tiket Watu Ulo     : 15.000
Parkir                    : 5.000
Dira Park              : 35.000
Total                      : 75.000
Dibagi berdua ya, gengs!

Happy HOLIDAAAAAY!!!!!

Selasa, 11 Desember 2018

Ada Apa Dengan “Rok Pendek”?

Baru – baru ini di sosial media banyak banget berita tentang tanda tangan sebuah petisi salah satu iklan Shopee yang menayangkan salah satu girlband korea. Kabarnya, banyak ibu – ibu yang mengkhawatirkan iklan tersebut karena tarian dan “rok pendek”.

What wrong with “rok pendek”? What wrong with that? Toh, “rok pendek” hanya sebuah kain. Baju yang kita pakai ini hanya sebuah kain yang menutup tubuh. Just it.

Hanya saja, dengan cara berpakaian kadang gampang sekali menilai seseorang. Kebanyakan dari kita pasti akan menilai seseorang dari bagaimana dia berpakaian. Iya kan? Orang yang cadaran, berjilbab, atau rok mini tentu akan berbeda penilaian.

Tapi apakah hanya dari sebuah kain kita pantas untuk menilai seseorang?

Rasanya nggak pantas sama sekali.

Kita mengolok orang – orang yang berpakaian mini ini dengan sebutan “calon penghuni neraka” atau 
pelacur atau lainnya

Kenapa?

Padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan.  Semua itu hanyalah Tuhan yang tahu. Kita tidak tahu hal – hal ghaib tersebut.

Yang kita tahu, bagaimana cara diri kita harus menjadi pribadi yang lebih baik, baik dan baik lagi.

Ini nggak ada sangkut pautnya dengan norma yang ada di Indonesia. Karena memang pada dasarnya budaya di Indoesia lebih condong ke timur. Norma yang ada di masyarakat kita sangat menjunjung kesopanan, baik itu kesopanan dalam berpakaian.

Dari segi agama? Islam menganjurkan atau bahkan memerintahkan para wanita untuk menggunakan pakaian yang menutup jelas mungkin berbeda dengan agama yang lainnya.

Disini aku hanya berbagi untuk kalian semua. Jangan mudah menilai seseorang dari apa yang dia pakai, dari apa yang dia kenakan. Karena nyatanya banyak sekali kata – kata yang diucapkan dari mulut ini ketika melihat seseorang berpakaian. Dan disini bukan berarti mempersilahkan untuk berpakaian yang terbuka, tapi yang ku maksud disini adalah jangan mudah menjudge orang hanya dari cara pakaiannya. Seperti orang yang berpakaian jilbab lebar dan yang tidak sering kali disangkutpautkan dengan keimanan atau ibadah seseorang. Please.

And the last.....

"Setiap orang memiliki aturan dalam kehidupannya masing - masing. Aku dan kamu yang sebagai orang muslim pun memiliki aturan. Maka dari itu orang yang beriman akan mengikuti aturan yang ada. Hanya saja mungkin prosesnya yang berbeda"



Selasa, 27 November 2018

Halo Masa Depan


Halo masa depan, ini aku yang sekarang

Kadang aku ragu terhadapmu. Kadang pula aku juga takut.

Tetapi aku lebih sering tidak sabar untuk segera bertemu.

Banyak orang yang bilang padaku, bahwa kamu adalah wujud dari apa yang aku kerjakan sekarang.

Benarkah?

Benar.

Karena apa yang kamu dapatkan dari apa yang kamu usahakan.

Begitu katanya.

Halo masa depan

Keinginanku sekarang bukan menjadi seseorang yang harus dikenal banyak orang

Ataupun menjadi pahlawan bagi orang – orang

Bukan. Tentu saja bukan.

Keinginanku sekarang hanyalah aku ingin bahagia

Walau kadangkala ada tangis dan luka

Dan aku ingin berguna untuk sesama

Halo masa depan

Semoga mimpiku

Keinginanku

Bisa terwujud

Selalu



Kamis, 22 November 2018

Kuliah Untuk Apa? #2


Halo halo, kembali lagi ketemu pembahasan yang satu ini. KU – LI – AH. Sebenarnya sudah sejak lama sih, orang tua selalu berkata” Jangan jadikan sekolah untuk tujuan mencari uang”. Termasuk juga kuliah. Banyak yang terjebak ingin masuk ke jurusan terentu karena kerjanya dimasa depan yang katanya menjanjikan. Padahal nggak selamanya seperti itu, kan. Kenyataan nggak sesuai, katanya. Ya memang, kenyataan nggak sesuai. Banyak yang dari jurusan ini akhirnya nyimpang ke pekerjaan jadi guru. Ada yang jurusan begitu malah jadi pembisnis.

Lah, jadi harus gimana?

Mamaku pernah ngasih nasihat waktu itu

“Kuliah itu jangan dijadikan untuk mencari uang, tapi untuk meningkatkan kualitas diri kamu, cara berpikir kamu dan ngasih manfaat yang banyak buat diri kamu dan orang – orang sekitar. Kalo kuliah cuma ngasih uang, banyak lulusan SMA yang bisa nyari uang.” 







Kamis, 15 November 2018

Menunggu


Aku sudah bosan menunggu

Menunggu kabar yang harus ku tanyakan terlebih dahulu

Menunggu balasan pesan setiap waktu

Menunggu kepastianmu

Aku lelah menunggu

Karena cerita – cerita sudah berlalu

Sementara, adakah aku dimasa depanmu?




Selasa, 06 November 2018

Q n A #2 "Rencana - Rencana"


Q : "Halo, kakak. Kita kembali lagi. Akhirnya ketemu setelah beberapa bulan nggak ngobrol bareng."

A : "Iya, ya. Udah berapa bulan sih?"

Q : "Sejak bulan Agustus, kayaknya."

A : "Oh iya, ya. Semenjak kamu berangkat kuliah"

Q : "Iya. Gimana kabar, kak? Gimana kabar dengan dia?"

A : "Baik. dia? Dia siapa emang? Haha"

Q : "Dia yang nun jauh disana"

A : "Hmm..."

Q : "Gimana? Gimana? Kapan mau nyusul nikah?"

A : "Belum, masih lama"

Q : "Jangan lama – lama dong, kak."

A : "Nunggu selesai kuliah."

Q : "Terus? Dia nunggu kakak lulus kuliah, gitu?"

A : "kata dia, iya. Tapi aku pernah bilang ke dia"

Q : "Bilang apa memangnya, kak?"

A : "Kita punya rencana masing – masing, aku punya rencana, kamu punya rencana. Tapi dibalik itu semua ada yang Maha Memutuskan."

Q : "Terus?"

A : "Nggak ada. Ya jalani saja dulu yang ada sekarang. Karena kita memang nggak tahu kan takdir apa yang sudah dituliskanNya"

Q : "Semoga didekatkan atau dipisahkan dan diberi pilihan yang terbaik dariNya"

A : "Aamiin. Semoga"





Rabu, 31 Oktober 2018

Air Mata Ternyaman


Air mata, maafkan aku. Kali ini kamu harus jatuh kembali. Hanya karena sebuah perasaan. Maybe. Bukan, ini bukan salah siapa – siapa. tapi ini salahku sendiri. Salahku yang tidak menjaga hati dengan hati – hati. Terlalu terbuai dengan perasaan palsu.

Aku hanya menjadi tempat ternyaman, katanya. Tapi hanya sebagai teman chat di sosial media. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Sakit. Sangat. Dulu, ada seseorang yang nyaman denganku. Hanya lewat sosial media, karena memang jarak kami yang berjauhan. Sebagai teman. Tapi apa selanjutnya? Ketika dia sudah menemukan seseorang yang membuatnya lebih nyaman dan ada hubungan yang lebih dengan orang tersebut aku ditinggal pergi.

Air mata. Maafkan aku. Malam ini aku meneteskanmu karena hatiku sakit.

Aku ingat. Ada orang lain yang membuatku nyaman. Sebagai teman. Tapi lagi – lagi hanya lewat sosial media. Tapi apa yang dikatakannya ketika dia menemukan seseorang yang lebih asyik daripada aku? Katanya, pertemanan kita nggak ada gunanya, karena hanya berhubungan lewat sosial media.
Itu menyakitkan. Buatku.

Rasa nyaman yang ditimbulkan dari sosial media hanya karena kamu kesepian. Dan aku menemani.

Ya, aku hanya seseorang yang dijadikan tempat pelarian ketika sosial media terasa sepi.

Tapi maaf, aku punya perasaan. Perasaan sebagai makhluk. Perasaan sebagai seorang wanita. Perasaan sebagai seseorang yang normal.

Air mata. Aku minta, kali ini harus kembali kuat.


Minggu, 30 September 2018

Orang Berpendidikan Jangan Seperti Ini


Sebagai orang yang berpendidikan, seharusnya bisa berbeda dengan orang – orang yang berpendidikan rendah. Terutama dalam sikap. Perilaku orang –orang yang berpendidikan seharusnya bisa dong berpikir sebelum melakukan sesuatu dan berpikir sebelum berbicara sesuatu. Bukan berarti, orang yang berpendidikan harus diam saja. NO! Itu salah besar. Orang yang pendidikan adalah investasi, bahkan investasi suatu negara dalam kemajuan.

Hari ini aku mendapatkan suatu pelajaran, bahwa masih banyak orang yang berpendidikan tapi urakan. Yes, aku nggak akan menyebutkan suatu hal apa itu karena hal itu menyangkut nama baik.

Ada suatu hal yang menjadi pelajaran untukku tadi siang. Bahwa kita boleh marah, boleh kecewa, boleh sedih terhadap sesuatu. Tapi tetap harus terkontrol dan harus difikirkan kembali. Apa marahnya kita bisa berdampak ke hal buruk atau tidak? Apa kecewanya kita bisa membawa hal yang membuat rugi orang lain atau tidak? Nah.

Jangan sampai, karena hal masalah kecil tapi marahnya kita meledak – ledak.  Masalah bisa dilesaikan dengan baik – baik, bukan dengan cara urakan. That’s it!


Selamat malam senin. Tetap semangat untuk besok. See you!



Senin, 24 September 2018

Bahagia Kita


Hai kamu

Yang telah mengisi kembali kekosongan hati

Yang membuatku membangun harapan – harapan baru

Menjalin mimpi bersama selamanya

Orang kata kamu tak tampan

Orang ucap kamu tak mapan

Orang bilang kamu biasa saja

Tapi bagiku kamu berbeda

Kamu sumber bahagiaku

Kamu itu ...

Ah, aku tak bisa mengatakannya

Jangan mencari yang sempurna

Tapi, carilah yang bisa saling mengisi agar bisa sempurna

Ini hanyalah keinginan

Tenang aku tak memaksa

Jika bukan takdir yang membuat kita bersama

Semoga aku dan kamu tetap bahagia

Dengan seseorang yang telah dipilihkanNya


dari seseorang untuk seseorang


Jumat, 14 September 2018

Kuliah Untuk Apa? #1


Hampir sebulan ini dengan menyandang mahasiswa di Universitas Jember, kadang aku pribadi masih bertanya – tanya pada diri sendiri.

Bener nggak sih, aku butuh banget untuk kuliah?

Kuliah seribet ini, ngabisin uang. Buat bisnis sebenarnya kan nggak butuh pendidikan yang tinggi. 
Cukup punya modal aja ya kan

Duh, kuliah banyak tugs

Dsb.                                 

Kuliah itu berat, kalau hanya gengsi kamu nggak akan kuat. Awal – awal pekan aja langsung tugas seabrek, banyak banget. Beda di jaman SMA, masuk hari pertama masih santai, perkenalan tapi di waktu kuliah hari pertama bisa – bisa langsung materi dan tugas. Kenal dosen dari mana? Karena aku sebagai mahasiswa Universitas Jember, biar tahu siapa dosen yang mengajar di kelas cukup dengan cek di websitenya. Ya begitulah.

Kuliah itu melelahkan, sejujurnya. Biasanya masih bisa nyantai, molor – molor waktu atau kerjakan tugas nanti – nanti aja. Di jaman kuliah, kamu nggak bakal bisa. Sekali molorin tugas, pasti bakal numpuk tugas – tugas yang lain. Jadi jangan deh, numpuk – numpuk tugas kalo nggak ingin waktu tidurmu berkurang. Haha

Karena itu semua, aku bisa belajar dari itu semua. Ya, semoga kamu bisa merasakan hal yang sama. Sekarang ini, aku bisa lebih menghargai waktu daripada dimasa lalu. Lima belas menit, itu sudah terasa banget berharganya. Lima belas menit, bisa buat ngerjakan tugas, bisa buat mandi dan lainnya. Apalagi buat cewek, lebih bisa multitalent kan. Makannya, ini juga penting banget dengan siapa kamu berteman, karena kalau berteman dengan orang males ya jadinya males juga. Bener nggak sih?

Yup, buat apa kamu kuliah?

Agar kamu bisa menghargai waktu.

Semoga, lulus wisuda tepat waktu di tahun 2022. Aamiin.



kharisma dalam mengerjakan tugas

Jumat, 17 Agustus 2018

Selamat Menempuh Status Baru : Mahasiswa Universitas Jember


Aku termasuk orang yang setuju banget dengan adanya OSPEK tanpa adanya kekejaman para senior. Sejak jaman SMA, aku punya trauma karena MOS. Waktu itu, masih ada yang namanya kakak kelas itu seenaknya mereka sendiri membuat aturan. Peraturan pertama, panitia selalu benar” dan “Peraturan kedua, jika panitia salah maka kembali ke peraturan pertama”. Menurutku itu kejam, karena mau bagaimanapun peserta melakukan sesuatu kalau panitia sudah ngomong salah yasudah salah.

Kesalahannya pun dibuat – buat, nggak masuk akal! Misalnya, kaos kaki harus diatas 20 cm dari mata kaki, kurang sedikit aja sudah tuh salah atau ukuran id card yang nggak sesuai sedikit. Itu enggak banget! Mungkin mereka bilang itu melatih mental, biar mental anak baru nggak mental tempe. Haloooo, ngelatih mental itu bukan dengan cara dibentak – bentak, bahkan dikata – katain gitu. Yang ada malah bikin dendam, parahnya trauma. Orang tuaku nggak pernah bilang yang kasar ke aku, dan mereka siapa? hanya sebatas senior yang seenak jidat ngata- ngatain.

Makanya aku bersyukur banget, OSPEK di Universitas Jember tahun ini nggak ada semacam begituan. Nggak ada marah – marah, nggak disuruh bawa sesuatu yang aneh – aneh dan untungnya pendamping kelasku baik, cakep dan cantik #eaa. Iya sih, bikin ngantuk selama materi, tapi nggak sedikit juga dosen – dosen ngasih game ke kita. Kakak senior yang lain juga ngasih bocoran tentang para dosen, mata kuliah dan lain – lain. Jujur, rasanya sudah dibikin nyaman sejak pertama kali datang untuk kegiatan. Ntaps!

Selamat datang para maba! Dan Semangat!

 Kenangan Ospek



Penerbangan balon saat upacara pembukaan


Salah satu menu makan siang


Selfie dulu *narsise*


Lagi upacara masih sempet gitu ya. haha!



Selasa, 07 Agustus 2018

Selamat Datang di Kota Bernama : Jember

Sudah beberapa hari ini aku memulai lagi untuk hidup di Kota Jember dengan status berbeda, maba alias Mahasiswa Baru. Jika sebelumnya , di Jember ini aku berstatus santri selama lima bulan. Wks! Bedannya apa aja? Lumayan banyak! Kalau sebelumnya hidup sebagai anak pondok, sekarang hidup sebagai anak kos. Kalau dulu untuk makan sudah disiapkan oleh bu dapur, kalau sekarang harus menyiapkan sendiri. Kalau dulu nggak bisa bebas karena dikengkang oleh aturan pondok, sekarang harus lebih tahu diri dengan aturan diri sendiri. But, it is oke. Hidup itu perlu mencoba hal – hal baru.

Kenapa Jember?

Karena aku sudah jatuh hati dengannya.

Menurutku Jember itu kota besar yang nggak serame di Surabaya atau Malang. Di sini segalanya murah! Percaya nggak, kamu bisa beli sayur bening (seperti sayur asem, gitu) dengan harga 1000! Kalau nggak percaya datang gih kesini. Hahaha.

Kehidupan sebagai anak kos, ya begitu – begitu aja sih. Masak, nyuci, bersih – bersih, nonton (karena masih belum aktif nih kuliahnya), ya sama lah seperti yang dilakukan di rumah.

Tanggal 13 nanti, ospek sudah dimulai, jujur aja di dalam diri masih ada trauma untuk ikut segala kegiatan ospek. Trauma yang diakibatkan waktu SMA. Huft. But, ya. Mama sudah berpesan, kalau dimarahi masuk telinga kanan langsung keluarkan lagi. Nggak usah dibawa sampai hati. Juga, melatih kekuatan mental. Oke, semangat!

Selasa, 24 Juli 2018

Kebahagian Besar Diwaktu Kecil


Selamat Hari Anak Nasional!


masa kecil Ai yang imoet imoet

Wah, wah kalau begini jadi membuat Ai ingin flashback ke masa lalu. Dulu waktu masih berusia anak – anak, Ai termasuk anak yang suka bermain. Saat itu orang tua masih tinggal di daerah perdesaan, jadi banyak sawah, sungai dan kebun. You know what, dimasa kecil Ai orangnya termasuk dekil, hitam dan juga rambut memerah karena sering terbakar sinar matahari. Akibat dari seringnya main dan main.

Dulu di televise ada acara “Si Bolang, bocah petualang” (nggak tahu sekarang masih ada apa nggak). Nah, jadinya Ai bikin “Si Bolang” ala sendiri gitu. Main ke sawah, main lumpur atau hanya sekedar melihat para petani menanam padi. Oh ya, AI juga sering cari rumput atau kangkung liar untuk kelinci yang AI pelihara. Pantas saja waktu itu Ai anaknya dekil dan hitam. HAHAHA.

Selain itu, sering banget mandi disungai! Padahal sudah dilarang berkali – kali oleh mama karena Ai dulu waktu kecil punya riwayat penyakit kulit. Tapi, namanya anak – anak pastinya nggak bisa dilarang – larang ye kaan? Akhirnya, untuk mandi disungai sembunyi – sembunyi agar tidak ketahuan mama (tapi yang namanya mama tetap aja bisa nemukan anaknya main dimana, wkwk). Hal yang paling menyenangkan adalah ketika air sungai surut dan kita bisa mencari ikan wader atau udang. Beberapa kali aku pernah ikut warga mencari ikan atau udang dan merelakan baju baru. Huhuhu.

Kenangan lain, disaat main layang – layang bareng teman laki – laki (waktu itu teman main Ai memang lebih banyak laki – laki). oh ya, aku dulu jago manjat lho, guys! Percaya nggak? WKWK! Manjat pohon mangga, jambu, keres (talok/ceri kecil/apalah itu) sudah biasa. Ai pernah tuh manjat pohon jambu air berdua sama kakak kelas (sampai sekarang nggak tahu itu pohon punya siapa ._. ).  Selama manjat memanjat itupun syukur – syukur nggak pernah jatuh atau terluka. 

Ah, masa kecil yang banyak kenangan. Sekarang pun pastinya teman – teman kecilku sudah tumbuh dewasa. Beberapa sudah ada yang menikah, bekerja, kuliah dan lebih banyak tidak tahu kabarnya lagi #sedih.  Hidup dimasa itu adalah sesuatu yang sangat ku syukuri.

WHY?

Karena aku yakin banyak anak jaman sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktunya bermain handphone daripada bermain diluar. Sering banget, ngelihat anak kecil di sekitar perumahan bawaannya handphone bagus, saling nunduk fokus ke layar walaupun mereka berkumpul bersama. Atau anak – anak baru puber yang ingin jadi artis sok sok ngevlog sambil bergaya – gaya. Panutannya para youtuber alay. Huft.

Padahal dengan bermain keluar, anak bisa bereksplorasi dan belajar lebih banyak. Kenangan masa kecil yang hanya sekali seumur hidup jauh lebih indah. Percayalah.

Oleh sebab itu, ketika nantinya Ai sudah berkeluarga (masih lama ya) dan punya anak, akan membiarkan mereka bermain sepuasnya. Entah mau main ke sungai, sawah atau permainan lainnya. Agar masa kecil mereka tidak sia – sia seperti kebanyakan anak jaman sekarang.



Senin, 09 Juli 2018

Terinspirasi Karena K - POP


Halo, sudah masuk Bulan Juli di tahun 2018 nih. Tak terasa ya, setengah tahun sudah berjalan. Target  target dari awal tahun apa saja yang sudah tercapai nih? Jika belum ada,tetap berusaha ya, bae.

Kali ini Ai mau bahas tentang K – Pop, nih. Pasti banyak yang sudah tahu apa itu K – Pop. SM entertainment, YG entertainment atau JYP entertainment pasti sudah tidak asing lagi untuk penggemar K – Pop. Nama fans boyband atau girlband bermacam – macam namanya. Dari yang EXO – L, Army sampai Wannable.  Dari Once sampai Buddy.

Mungkin kedengerannya aneh kali ya, tiba – tiba Ai tahu yang beginian. HAHAHA. Sebenarnya sudah lama banget Ai suka sama yang namanya Korea begini. Dulu yang masih jamannya drama korea Princess Hours (udah luama banget ini dan baru – baru ini diadaptasi ke drama Thailand ) lanjut drama City Hunter, hingga WYWS. Nah ayo, sudah nonton drama korea yang mana aja, nih? HAHAHA. Dari drama – drama itu pasti ada soundtracknya kan, nah ada di beberapa drakor yang soundracknya bagus (menurutku) dan biasanya langsung browsing di Google, download dan didengarkan berkali – kali.

Siapa yang sama kayak Ai? Ancung tangaaaaan!!!

Kagum dan terinspirasi dalam dunia hiburan Korea. Dari drama korea hingga K – Popnya. Kenapa? Karena perjuangan mereka untuk bisa membesarkan nama tidak mudah, perlu banyak pengorbanan. Dari masa trainee hingga debut mereka melaluinya nggak hanya satu dua tahun, perlu digembleng  oleh tim entertainment hingga benar – benar bisa terkenal.
   
Dari sana Ai belajar, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar tidak mudah. Boyband EXO memiliki fans hingga belahan dunia tentu kerjaannya nggak hanya tenang – tenang saja, pasti mereka manggung di banyak konser, mengenalkan boyband mereka, dan masih banyak hal  yang dilakukan. Capek? Pasti. Karena bisa jadi waktu istirahat mereka juga berkurang. Karena toh mereka terkenal bukan karena sekedar tampang tampan, mereka memang benar – benar berbakat.

Begitulah, kalau ingin terkenal, memiliki nama yang besar. Bukan dengan cara yang murahan. Jual rasa malu, harga diri ataupun sekedar main aplikasi. Tapi terkenalah karena memang kamu pantas dikenal. Karena kalau hanya modal yang begitu – begitu aja, yakin! Yakin! Terkenalmu nggak bakalan lama. HAHAHA. Bagai angin lalu yang berhembus. Gampang banget tenggelam dan tergantikan oleh yang benar – benar berbakat. Atau bakatmu memang yang selalu bikin kontroversi, ya itu sih beda lagi ya.

Jadi, tidak ada alasan untuk membenci K – Pop, guys. Tapi kan, banyak banget yang bilang kalau K – Pop adalah sebuah kesia – siaan belaka, Ik! Tidak, buktinya aku bisa terinspirasi dari kerja keras mereka. Nah, kan. Yang tidak baik itu terlalu ngefans banget sampai segala hal, kehidupan mereka itu ditiru. Itu yang tidak baik, sayang. Terlalu berlebihan itu tidak baik, bukan? Karena itu,  Ai sendiri sebenarnya hanya seorang penikmat film, lagu dan wajah dari para Oppa.




Bonus foto dari Wongjoo Oppa nih ^^v

Jumat, 29 Juni 2018

Anak Akhir Jaman

Assalamualaikum, semua pembaca blog yang setia.

Blog ini hampir tidak ada konten di Bulan Juni ini *hiks. Tapi karena ai disini lagi pingin mengutarakan sesuatu yang sedang hits akhir – akhir ini. Tau nggak apa?
Jawab dong para netijen yang pintaaar, ntar ai kasih hadiah deh.

Eh,

Boong ding.

HAHAHA.

Ai ingin curhat nih, tentang kelakuan “Anak Akhir Jaman”. Kenapa disebut seperti itu? Iya, karena sekarang banyak tanda – tanda akhir jaman yang sudah terjadi. Banyak sekali Ustadz yang sudah mengingatkan tentang ini. Lalu bagaimana kabar amal kita? Lebih banyak kebaikan kah? Atau jutru sebaliknya?

Anak akhir jaman atau anak jaman sekarang makin kreatif untuk berkreasi, tapi mungkin karena kelebihan micin akhirnya banyak yang berkreasi tanpa faedah. Ai disini tidak akan menyebutkan siapa orangnya ataupun asalnya, karena bagi Ai itu adalah suatu aib yang harus dijaga. Jadi, akhir – akhir ini sering banget muncul suatu akun yang trending banget di Instagram. Sering banget jadi bahan bicaraan (atau lebih tepatnya gunjingan? *entahlah).  Sebenarnya Ai juga nggak ngefollow akun ini, tapi sering banget muncul di explore. Sebagai netijen yang budiman, KEPO juga dong dan akhirnya ngestalk. Kesan pertama, followers dia sudah mencapai ratusan ribu dan lebih anehnya lagi Ai tidak melihat postingan dia yang “bagus untuk dilihat”. Komentar – kometar jahat yang dilontarkan kepada dia pun lebih banyak. Sedikit sekali yang mendukung dia atau memberi komentar yang baik. Tapi dia terlihat bahagia (?)

Setiap orang pasti punya idola bukan? Dan pasti ingin sekali foto dengan idolanya, nah si pemilik akun ini dengan penuh kreativitas mengedit foto dia dengan salah satu idolanya yang barangkali menurut dia tanpa melakukan hal itu dia tidak bisa foto langsung dengan sang idola. Ya mungkin seperti itu.

Tapi, yang jadi masalah adalah ini adalah kehidupan sosial media, kehidupan yang bebas. Kamu bebas berkreasi tapi juga harus tahu aturan. Jika bisa memposting suatu hal yang baik kenapa harus memposting suatu yang tidak berguna yang justru menimbulkan banyak hujatan?

Ingat, jika kamu melakukan sesuatu sementara lebih banyak orang yang menghujat daripada yang mendukung itu berarti ada “Something Wrong” padamu. Intropeksi diri agar lebih baik.  Pun ini berlaku untuk para netijen untuk selalu berpikir sebelum mengetik komentar.

Iya, tahu anak akhir jaman pasti ingin sekali tenar, dikenal  banyak orang. Tapi caranya bukan dengan cara yang murahan. Masih banyak cara – cara baik agar bisa dikenal dengan banyak orang atau bahkan bisa menginspirasi banyak orang.

Mari kita intropeksi, agar menjadi pribadi yang lebih baik.


Kamis, 31 Mei 2018

Fase Kehidupan Manusia di Usia 20 tahun : “Menikah”



Akhir bulan mei hampir berlalu tanpa konten jika aku nggak menulis tentang hal ini. Sudah setengah bulan berpuasa apa kabarmu kawan – kawan?

Masih semangat kah ibadahnya?

Masih bertahankah puasanya?

Masih baikkah kabar hatinya?

Hahaha, bulan ramadhan nih, sudah nggak jaman apa buat baper – baperan. Tapi, kalau udah selesai bulan ramadhannya nggak apa – apa di lanjut bapernya. Baper ditanya sama saudara – saudara kapan nikah (paling sering, nih) atau baper dengan arti bawa perubahan. Ya silahkan pilih sendiri lah.

SEBENTAR LAGI!

YAP, SEBENTAR LAGI!


"Sebentar lagi milad lho, apa nggak ada yang mau kirim paket kado ke rumah?"

Usiaku bertambah, menjadi kepala dua. Bukan, bukan berarti kepala (dalam arti yang sesungguhnya) bertambah menjadi dua kepala. Itu hanya istilah saja, ya seperti itu.

Di usia kepala dua sama istimewanya seperti tiga tahun lalu ketika aku masih berusia tujuhbelas. Hal – hal ajaib yang terjadi selama ini membuatku menjadi seseorang yang seperti “Ini” di usia 20. Tapi masih banyak hal – hal yang belum terjadi padaku, menikah misalnya? Itu adalah salah satu fase kehidupan manusia yang nantinya akan aku alami dan bisa jadi dalam waktu dekat. Who Knows?

Ah, kalau hanya memikirkan tentang pernikahan rasanya masih terlalu sempit. Bukan karena aku kontra dengan menikah muda, justru beberapa waktu yang lalu aku ingin segera menikah. Tapi, apa daya sepertinya memang masih belum dapat ijin dari Tuhan.

Oleh sebab itu di usia 20 ini, aku ingin mencoba dan belajar banyak hal. Mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba di serpihan masa lalu. Backpacker ke luar negeri misalnya? Kan, belum pernah dicoba tuh. Atau diving di laut – lautnya Indonesia yang indah. Atau bisa membangun jaringan bisnis hingga keluar negeri.

Semoga.

Mimpi bukan sekedar mimpi jika berusaha untuk mewujudkannya. Mewujudkan mimpi tidak hanya berdiam diri di kamar, tapi juga bergerak keluar, bergabung dan bertemu dengan orang – orang baru. Makin kesini, aku makin sadar. Bahwa teman – teman yang ku miliki saat ini masihlah sangat dikit. Banyak orang – orang baik diluar sana. Banyak orang – orang yang menginspirasi di luar sana.

"Berusahalah,Ik! Di usiamu yang ke 20 ini mulailah belajar lebih banyak hal! Jangan pernah takut mencoba apapun! Karena jika tidak, kau akan menyesal nantinya. Sekalipun kamu tidak mendapat dukungan dari orang lain, tetaplah semangat karena yang paling penting adalah energi semangat pada diri, pada jiwamu, pada hatimu. Jangan pernah lelah hingga tujuanmu tercapai. Semangat, disiplin dan bekerja keraslah. Jangan lupa lakukan ibadah dengan sebaik – baiknya untuk energi dalam ruhmu."

((Pesan Didalam Dinding Kamar))






Sabtu, 28 April 2018

Q & A "Patah Hati yang Berkali – Kali"


Q : “Pernah patah hati karena apa?”

A : “Karena cinta, karena cita.”

Q : “Maksudnya gimana?”

A : “Begitulah, patah hati karena orang yang dicintai dan juga karena cita – cita yang belum tercapai.”

Q : “Pernah jatuh cinta juga?”

A : “Karena patah hati terjadi setelah kamu jatuh cinta.”

Q : “Lalu?”

A : “Normal seperti manusia lain. Nangis iya, sedih iya, kecewa iya.”

Q :“Bagaimana kamu bisa jatuh cinta dan menyebabkan kamu patah hati?”

A : “Kuakui bahwa aku tidak mudah untuk bisa kagum terhadap seseorang. Jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin tidak berlaku padaku. Karena aku pun pernah jatuh cinta ke seseorang dimana sama sekali bertemu dengannya.  Aku jatuh cinta pada kenyamanan yang dia berikan.”

Q : “Rasa nyaman yang seperti apa?”

A : “Mengagumi dari jauh tanpa pernah bisa mengungkapkannya. Hal ini lah yang membuatku semakin suka.”

Q : “Lalu, kenapa kamu bisa patah hati?”

A : “Inilah akhirnya, aku tidak bisa melanjutkan. Dia menikah dengan wanita lain dan aku harus berhenti untuk mengaguminya.”

Q : “Menyedihkan sekali. Lalu apa ia cinta terakhirmu?”

A : “Tentu saja tidak. Cinta tidak boleh berakhir. Karena pada akhirnya aku menemukan orang lain yang sedang ku kagumi.”

Q : “Serius?”

A : “Benar.”

Q : “Apa yang terjadi selanjutnya?”

A : “Sudah ku putuskan bahwa kali ini aku akan mengatakan padanya lebih dulu. Hal yang aneh memang, tapi kenyataannya lebih sakit jika ditinggal daripada ditolak. Ditolak di awal tidak perlu mempertaruhkan hati agar semakin nyaman pada dia.”

Q : “Apa yang terjadi dengan dia?”

A : “Yah pada akhirnya aku kembali ditolak dan patah hati.”

Q : “Maaf, aku tidak berniat membuatmu sedih”

A : “Ah, tidak. Justru semakin sering patah hati membuatku semakin tahu bahwa hati sifatnya berbolak balik. Kadang ia merasa senang kadang juga sedih. Kadang ia berbunga – bunga karena jatuh cinta kadang pula ia kelam kelabu karena patah.”

Q : “Baiklah, semoga kisah cintamu akan berakhir bahagia pada akhirnya nanti”

A : “Terima kasih.”



Minggu, 08 April 2018

Nikah, Nggak Perlu Dipikir Kok!


WHAT?

Nggak salah, nih?

Jaman sekarang ini pertanyaan yang sering diajukan kepada jombloers di Indonesia bukan “Mana pacar lo?” tapi yang sering menjadi pertanyaan adalah “Kapan nikah?”. Booming banget. Akun – akun nikah pun bertebaran di sosial media dan efek yang paling parah adalah B A P E R!

Kebaperan hakiki.

Pernikahan (menurut pribadi) adalah bersatunya dua orang yang terikat perjanjian dalam ijab qobul demi mewujudkan visi dan misi bersama sehingga meraih keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Fakta yang terjadi adalah bersatunya dua manusia ini nggak mudah alias susah banget! Perlu komitmen, tanggung jawab, pengertian, kesabaran dan masih banyak hal.

Aku disini nggak mau membahas yang terlalu jauh karena memang belum merasakan (oke fix, masih jomblo #bahagia).

Dari buku yang pernah aku baca, menikah itu NIKMAT. Sudah kita ketahui, bahwa menikah adalah penggenapan setengah agama maka segalanya menjadi pahala. Dulu ketika berpegangan tangan itu haram, kini menjadi pengugur dosa. Dulu ketika menatap matanya adalah zina, sekarang justru menjadi suatu hal yang romantis.

Perlu di ingat disini adalah, menikah bukan untuk perlombaan. Memang banyak sih yang menikah di usia muda, tapi yang BERCERAI juga banyak di usia pernikahan yang masih muda.
Mengapa apa hal itu bisa terjadi?

Karena mereka sebenarnya masih belum siap untuk berkomitmen. Mungkin menikah karena ingin bebas dari orang tua? Mungkin menikah karena melepas status agar tidak diejek jomblo oleh teman – teman sekitar? Dendam dengan mantan yang lebih dulu menikah? Merasa kesepian karena banyak teman yang akhirnya lebih dulu menikah? Atau ada kemungkinan lain yang tanpa disadari?

Hanya Allah yang tahu segala isi hati dan niatmu.

Menikah, jangan (hanya) dipikirkan tapi juga perlu dipersiapkan. Selagi menunggu datangnya jodoh persiapkan ilmu sebanyak – banyaknya. Baca buku tentang pernikahan atau mengikuti kajian pranikah misalnya. Mencari ilmu tentang menikah itu jangan ketika sudah merasa siap untuk menikah karena kita nggak tahu datangnya jodoh kapan.

Semangat.

Kita bersama - sama menyiapkan diri


ps : buku tentang nikah bisa di pesan di instagram @tokobukue.id (tersedia diskon, lho)

salam.

#INSPIRATIF #INOVATIF #KREATIF

Senin, 19 Maret 2018

Iik For PRESIDEN?


Menjadi presiden?

Haha, masih belum terpikirkan kearah sana.

Tapi gara – gara salah satu teman sosial media yang membuat hastag di kolom komentar, jadi ku berpikir untuk






T I D A K.

Untuk saat ini.

Menjadi presiden itu berat, tanggungannya sewarga negara yang jumlahnya jutaan. Belum lagi tanggung jawab di akhirat nanti.

Menjadi pemimpin itu berat, bahkan Umar bin Abdul Aziz seringkali menangis, takut kepada Allah atas kepemimpinannya di masa itu.

Masih ingat dengan jelas, perkataan salah satu orang besar Jawa Timur, Bapak Arif HS beliau mengatakan bahwa “Menjadi pemimpin itu bukanlah sebuah kehormatan, tapi itu adalah beban. Beban tanggung jawab terhadap kesejahteraan warganya”. Nah, kan.

Pemimpin sekarang kenapa malah ribut sana sini mempertahankan kursi? Nyuap sana sini agar dapat dipilih lagi?

UNTUK APA?

Disini bukan melarang untuk menjadi seorang pemimpin, kita masing – masing adalah pemimpin. Ayah pemimpin keluarga, ustadz pemimpin pondok pesantren, Kepala sekolah memimpin di sekolah dan contoh pemimpin lainnya. Yang perlu diingat adalah menjadi pemimpin itu berat, nggak gampang. Itu adalah sebuah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Kesadaran inilah yang perlu ada disetiap individu, apalagi untuk menjadi seorang pemimpin negara.

#IIKFORPRESIDEN ??

Kita lihat saja, nanti!

#INSPIRATIF #INOVATIF #KREATIF

Sabtu, 10 Maret 2018

Cerita Hari Ini, "Hamil Diluar Nikah?"


Halo – halo. Beberapa hari ini mungkin aku menyebar foto tentang anak kecil yap? Anak kecil masih merah alias baru lahir. And than, banyak yang mengira anak siapa kah itu? Benar nggak sih anakku? Karena ada salah satu teman yang mengabarkan bahwa aku udah nikah (tanpa menyebar undangan) dan sudah punya anak.



Hoax atau fakta?

Awal mula yang terjadi adalah aku kirim foto anak bayi ke salah satu teman (dan dia ini anaknya heboh banget). Kemudian,  dia mengirim ke grup teman – teman SMP bahwa aku udah nikah dan punya anak (tanpa ada kabar). Dari sanalah rame desas desus antar anggota grup. Ada yang percaya – percaya aja, ada yang “halah apa sih”, ada yang no komen and no reken. Secara mungkin selama ini masih terlihat sering galau, sering yang rindu abang #eh dan ya gitu deh. Masa, tahu – tahu punya anak?! Mungkin nggak sih?

Hahaha, mungkin aja kalau aku nggak koar – koar di media sosial (anak jaman now kan apa – apa dri medsos).

Banyak dari kita masih suka yang namanya berprasangka. Lebih seringnya prasangka buruk. Walaupun memang ada sih yang menolak mentah – mentah. Apalagi ditambah aku bikin status di salah satu media sosial bahwa aku baru saja terkena “Musibah”. Wah tambah menjadi deh yang namanya prasangka antar teman.

Nggak segera diklarifikasi, malah nanya antar teman yang dimana nggak ada sangkutpautnya. Nggak yang bener – bener nanya, ke orang yang dituju. Malah tanya kesana – kemari dan akhirnya hoax lah yang tecipta. Malah ada yang bilang, (naudzubillah) aku hamil diluar nikah ataupun nikah siri.
Akibat yang terjadi dari sebuah prasangka itu besar ya guys. Malah menimbulkan hoax dimana – mana dan yang lebih parah adalah F I T N A H.

Jadi , yang sebenarnya adalah
1. Anak yang disebarkan di grup itu bukan anakku, tapi anak tante. Jadi dia adalah sepupuku yang baru lahir. Namanya Hanun Hafizah. Doakan ya, semoga dia jadi anak yang sholihah.

2. Aku belum nikah, masih belum punya “Abang”. Sekalipun aku nikah nantinya, aku bakal ngundang teman – teman dimanapun berada.  (akhirnya bingung mau cari gedung dimana, karena kira – kira yang diundang lebih dari 500 orang)

3. Tentang photo profile whatsapp itu adalah foto nikahan tante ku juga. Hehehe. Sekitar 2 tahun yang lalu.

4. Tentang status “Musibah”, karena bisnis yang sedang turun. Yaps, jadi malam itu salah satu teman mengabarkan bahwa uang yang ku transfer nggak masuk. Kepikiran juga, karena bukti transfernya nggak ada alias hilang entah dimana. Selanjutnya, aku tuh habis beli sesuatu di online shop, tapi salah ukuran (dan nggak bisa direturn). Sedih. Tapi syukurlah, udah kelar masalahnya

5. Ku sekarang lagi sakit, pusing dan pilek. Gara – gara minum es degan. Mohon doanya ya, semoga cepat sembuh.

Sekian.

#INSPIRASI #INOVATIF #KREATIF


Dalang dibalik skenario

Kamis, 08 Maret 2018

Indonesia, Maaf Aku Sudah Capek!



Iya, gue capek setiap hari yang terdengar di Indonesia hanya berita buruk. Korupsi bermilyaran bahkan triliunan, hutang negara yang belum terselesaikan dan semakin naik, asset – asset negara yang katanya dijual, hukum yang seperti dipermainkan. Belum lagi, saling serang, saling sikut, saling menyalahkan antar sesama warga Negara Indonesia

Pembukaan Undang – Undang Dasar yang dibaca ketika upacara mungkin sudah tidak ada artinya.

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

Ah, gue capek mendengar berita tentang Indonesia tentang carut marutnya akhlak para generasi mudanya. Tawuran, sex bebas, narkoba, minuman keras dan hal – hal yang merusak lainnya.

Ah, iya gue capek. Seperti beban ini semakin menumpuk. Beban bagi kami (generasi penerus bangsa Indonesia) yang masih sadar akan tugas yang membentang. Tugas untuk masa depan Indonesia tercinta. Sejujurnya, memang membuat capek. Tapi bagi kami ini adalah suatu amanah yang harus diteruskan perjuangannya. Dulu, para pahlawan merebut kemerdekaan Indonesia tidak mudah, kini bagi kami mempertahankan kemerdekaan itu lebih tidak mudah. Berat bro, berat seperti rindunya Dilan pada Milea.


Trus, Yoopo iki?

Kesadaran saudara – saudara sangat penting, Indonesia tidak boleh terus menerus seperti ini. Semakin kita membiarkan dan acuh tak acuh (Ora ngereken Basa Jawane) maka Indonesia akan semakin jatuh, semakin terseok – seok dan tak ada harganya. Tentu kita tidak ingin negara yang kita cintai ini menjadi seperti itu bukan?

Caranya adalah mata kita harus terbuka, hati kita harus ada kemauan untuk merubah dan berubah, pikiran serta fisik kita harus mau bergerak. Mulailah sadar dengan dunia politik, pendidikan, kesehatan sosial dan budaya Indonesia.Tidak lupa, berpikir tentang krisis moral yang sedang terjadi di Negara yang kita cintai ini. Bersikaplah kritis dengan masalah – masalah yang ada disana, karena dengan sikap kita yang kritis akan menemukan solusi yang bijak sekaligus hanif.

Mari pemuda Indonesia, jangan hanya capek dan lelah mendengar dan melihat kejelekan – kejelekan yang terjadi di negara yang kita cintai ini, tetapi kita juga harus peduli dan saatnya merubah lebih baik

#INSPIRATIF #INOVATIF #KREATIF

Kamis, 01 Maret 2018

Kecantikan Hakiki

ilustrasi wanita sempurna
sumber : google

Wanita itu selalu iri dengan wanita yang lain, apalagi dari segi fisik. Terlalu membanding – bandingkan sehingga yang terjadi mereka nggak pede. Ya, nggak pede dengan fisik dirinya sendiri. Siapa yang pernah mengalami?

Acungkan tangan 

Yah, tanpa sadarpun pasti setiap perempuan ingin tampil perfect dan dibilang cantik. Perfect body atas, tengah dan bawah. Ingin dibilang cantik sepanjang waktu, bahkan ada beberapa orang yang baru bangun tidur selfi plus caption morning selfie, setelah itu banyak komentar dari para netizen yang mengatakan “wah,  kak, bangun tidur aja cantik”, “cantik banget sih, kak”, “Duh, pengen deh punya 
wajah cantik kayak kakak”, dan komentar – komentar lainnya.

Haloooow, ini udah jaman serba now guys. Dimana, cantik itu bisa di edit, bisa dimake up, bisa karena efek cahaya, bisa karena kamera yang bagus, bisa karena filter, bisa karena… (lanjutkan sendiri,  deh). Jadi, udah nggak jaman lah yang namanya iri karena cantiknya orang. Padahal, 
mungkin kalau udah face to face ya biasa aja fisiknya.

(nah, kalo  kayak gini gimana?)
sumber : google

Kalau kamu gimana?

Wajah biasa, hidung juga nggak mancung, mata sipit (kalau lagi tersenyum), kulit cokelat, tinggi juga nggak semampai, body yang nggak kutilang. Ya semua biasa aja. Mungkin, kalau ikut miss universe udah nggak bisa daftar. (HAHA, lagian aku juga nggak minat kok)

Lantas, apa dengan itu semua apa kamu cantik?

Menurut pribadi, ya aku ngerasa cantik. Allah SWT sudah menciptakan kita semua dengan sebaik – baik rupa. Jadi #bersyukur itu perlu dan penting. Bersyukur karena walaupun wajah pas – pasan tapi masih diberi kesehatan, misal.

Cantik fisik itu bukan segalanya, yang paling penting adalah cantik batin. Cantik akhlak, perilaku dan karakter. Menurutku, percuma cantik tapi suka ninggalin sholat, percuma cantik tapi rajin maksiat, percuma cantik tapi dengan orang tua nggak taat. Ya kan?