Rabu, 31 Oktober 2018

Air Mata Ternyaman


Air mata, maafkan aku. Kali ini kamu harus jatuh kembali. Hanya karena sebuah perasaan. Maybe. Bukan, ini bukan salah siapa – siapa. tapi ini salahku sendiri. Salahku yang tidak menjaga hati dengan hati – hati. Terlalu terbuai dengan perasaan palsu.

Aku hanya menjadi tempat ternyaman, katanya. Tapi hanya sebagai teman chat di sosial media. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Sakit. Sangat. Dulu, ada seseorang yang nyaman denganku. Hanya lewat sosial media, karena memang jarak kami yang berjauhan. Sebagai teman. Tapi apa selanjutnya? Ketika dia sudah menemukan seseorang yang membuatnya lebih nyaman dan ada hubungan yang lebih dengan orang tersebut aku ditinggal pergi.

Air mata. Maafkan aku. Malam ini aku meneteskanmu karena hatiku sakit.

Aku ingat. Ada orang lain yang membuatku nyaman. Sebagai teman. Tapi lagi – lagi hanya lewat sosial media. Tapi apa yang dikatakannya ketika dia menemukan seseorang yang lebih asyik daripada aku? Katanya, pertemanan kita nggak ada gunanya, karena hanya berhubungan lewat sosial media.
Itu menyakitkan. Buatku.

Rasa nyaman yang ditimbulkan dari sosial media hanya karena kamu kesepian. Dan aku menemani.

Ya, aku hanya seseorang yang dijadikan tempat pelarian ketika sosial media terasa sepi.

Tapi maaf, aku punya perasaan. Perasaan sebagai makhluk. Perasaan sebagai seorang wanita. Perasaan sebagai seseorang yang normal.

Air mata. Aku minta, kali ini harus kembali kuat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar