Q : “Pernah patah hati
karena apa?”
A : “Karena cinta, karena cita.”
Q : “Maksudnya
gimana?”
A : “Begitulah, patah hati karena orang yang dicintai dan
juga karena cita – cita yang belum tercapai.”
Q : “Pernah jatuh
cinta juga?”
A : “Karena patah hati terjadi setelah kamu jatuh cinta.”
Q : “Lalu?”
A : “Normal seperti manusia lain. Nangis iya, sedih iya,
kecewa iya.”
Q :“Bagaimana kamu
bisa jatuh cinta dan menyebabkan kamu patah hati?”
A : “Kuakui bahwa aku tidak mudah untuk bisa kagum terhadap
seseorang. Jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin tidak berlaku padaku.
Karena aku pun pernah jatuh cinta ke seseorang dimana sama sekali bertemu
dengannya. Aku jatuh cinta pada kenyamanan
yang dia berikan.”
Q : “Rasa nyaman yang seperti
apa?”
A : “Mengagumi dari jauh tanpa pernah bisa mengungkapkannya.
Hal ini lah yang membuatku semakin suka.”
Q : “Lalu, kenapa kamu
bisa patah hati?”
A : “Inilah akhirnya, aku tidak bisa melanjutkan. Dia
menikah dengan wanita lain dan aku harus berhenti untuk mengaguminya.”
Q : “Menyedihkan
sekali. Lalu apa ia cinta terakhirmu?”
A : “Tentu saja tidak. Cinta tidak boleh berakhir. Karena
pada akhirnya aku menemukan orang lain yang sedang ku kagumi.”
Q : “Serius?”
A : “Benar.”
Q : “Apa yang terjadi
selanjutnya?”
A : “Sudah ku putuskan bahwa kali ini aku akan mengatakan
padanya lebih dulu. Hal yang aneh memang, tapi kenyataannya lebih sakit jika
ditinggal daripada ditolak. Ditolak di awal tidak perlu mempertaruhkan hati
agar semakin nyaman pada dia.”
Q : “Apa yang terjadi
dengan dia?”
A : “Yah pada akhirnya aku kembali ditolak dan patah hati.”
Q : “Maaf, aku tidak
berniat membuatmu sedih”
A : “Ah, tidak. Justru semakin sering patah hati membuatku
semakin tahu bahwa hati sifatnya berbolak balik. Kadang ia merasa senang kadang
juga sedih. Kadang ia berbunga – bunga karena jatuh cinta kadang pula ia kelam
kelabu karena patah.”
Q : “Baiklah, semoga
kisah cintamu akan berakhir bahagia pada akhirnya nanti”
A : “Terima kasih.”

