Di Suatu hari, tahun 2015
“Mamaaa, aku pingin nikah muda”
“Ehhh!!!”
“Iya, ma, enak kan nikah muda. Ada yang bisa diajak pacaran
tapi halal. Aku kan juga pingin tuh yang namanya pegangan tangan sama cowok,
mesra – mesraan sama cowok kayak temen – temen aku yang lain” Aku mengebu –
ngebu menjelaskan perkataanku yang tadi.
“Aduh, kak, kamu ini ada – ada saja!”
“Ihh mama ini, aku nggak bercanda, lho, ma”
“Sudah, sudah, sana belajar!”
Remaja yang berusia 17 tahun pasti nggak akan jauh – jauh dengan
yang namanya punya gebetan, kakak adik zone, atau bahkan pacaran.
Tapi, aku berbeda dengan yang lain. Keinginanku sudah bulat
untuk ‘menikah muda’ saat itu. Apalagi di sosial media, booming sekali tentang
nikah muda.
Nikah muda itu sama seperti pacaran, tetapi dalam konteks
yang halal. Katanya. Itulah salah satu alasan dimana aku ingin segera menikah
muda. Selama ini, aku hidup dilingkungan keluarga yang bisa dibilang cukup
agamis. Apalagi, aku selalu berpegang teguh untuk tidak bersentuhan tangan
dengan para laki – laki.
“Kak, kamu harus tahu, menikah itu nggak mudah” ucap mama
menasehati suatu ketika.
“Iya, iya, tahu. Tapi kan menikah itu berpahala. Itu, tuh,
katanya bersentuhan tangan aja dapat pahala” aku ngeles.
“Aduh kak, kamu ini masih SMA”
“Ya, gapapa, nikahnya setelah lulus SMA”
“Kak, kak. Kamu ini, apa jodohnya sudah datang?” mama
bertanya dengan pertanyaan yang menohok.
“Belum, sih, Ma”
“Jodohnya aja belum datang, gitu kayak mau minta nikah besok
aja, Kak, Kak” mama tertawa.
“....” aku terdiam. Bingung menanggapi.
“Sudah gih, sana. Kamu perbaiki diri kamu dulu. Setelah itu
baru kalau jodoh sudah datang, boleh nikah”
“Beneran, nih, Ma?” jawabku berbinar – binar.
“Iya, kalau jodoh sudah datang.”
“Yaaah, tapi kalo nggak datang – datang gimana dong ma?”
“Makanya, doa sama Allah, minta jodohnya biar segera datang”
“Gitu ya, Ma. Oke deh” jawabku senang. Sementara mamaku
hanya geleng – geleng kepala.
“Dasar anak jaman sekarang”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar