Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?
Cuci pakaian? Bersih – bersih kamar kosan? Mencoba masak
menu baru? Melaksanakan hobi? Atau tidur seharian setelah selama lima hari
beraktivitas tiada henti?
Terserah saja, asalkan hari ini kamu bahagia.
Hari ini setelah beraktivitas seharian, leyeh – leyeh,
lanjut buka sosial media. Tanpa sadar
stalking akun sana sini.
“Wih, keren ya, bisa sekolah di luar negeri.”
“Enak ya, hidupnya bisa travelling sana sini.”
“Barangnya bagus – bagus banget, branded. Kapan ya bisa
punya”
“Ini juga, suka nongkrong – nongkrong di tempat yang
bagus”
Datang pikiran –
pikiran rasa iri yang menggelayut.
Kemudian akan larut
.....
....
...
..
.
Tidak, tidak boleh!
Banyak yang sudah mengatakannya, sebagai manusia kita
tidak boleh selalu melihat ke atas. Karena jika kita selalu melihat ke
atas, maka akan semakin berkurang rasa syukur kita. Barangkali benar. Atau
memang sungguh sangat benar?
Aku merasa beruntung karena
datangnya kesadaran untuk kembali hidup di dunia nyata. Dunia kita yang
sesungguhnya.
Batin yang berkecamuk didalam dada. Memori yang berputar
didalam kepala.
“Tidakkah kamu sering lihat, orang yang menggais – ngais tempat
sampah untuk mencari makanana sisa?”
“Tidakkah kamu semalam melihat, beberapa orang yang tidur
beratap langit dan beralas tanah
hanya berselimut kain seadanya?”
“Tidakkah kamu tau, bahwa ada banyak orang – orang yang
kurang beruntung dibanding kamu”
Sungguh, tanpa sadar kadang diri ini futur, lupa untuk bersyukur
Jika futur, kadang kita hanya melihat sisi indah dari
hidup seseorang, dan lupa bahwa masih lebih banyak yang merasakan pahitnya.
Jika kita futur, kita hanya melihat sisi
enak - enaknya hidup, padahal hidup juga cobaan dan
permainan semata.
Begitulah.
Bersyukur kita akan merasakan manisnya hidup. Karena kita akan merasa cukup. Seperti donat manis yang ku makan hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar